Membicarakan betapa hebatnya Indonesia, baik dari segi kekayaan Sumber daya alam, maupun kekayaan dan keanekaragaman budaya tak kan pernah habis kita dibuat kagum dan terperangah. Ya....di tengah gencarnya berita-berita dan isu negatif yang berkembang di media masa dan media elektronik tentang berbagai kejadian degradasi moral yang melanda berbagai dimensi kehidupan bangsa ini, kita tentu merasa jengah, miris, prihatin, pesimis akan masa depan bangsa kita. Oleh karena itu menggali kembali sejarah kebesaran bangsa kita semoga menjadi setitik embun pemuas dahaga itu.
Ok kawan bahasan saya kali ini tentang Candi sebagai bukti tak terbantahkan bahwa bangsa kita berasal dari nenek moyang yang luar biasa maju perdabannya.
Kita semua tahu, pembangunan candi tidak dilakukan asal-asalan. Bahkan butuh waktu yang tidak sebentar, sepertihalnya Candi Borobudur yang membutuhkan waktu 100 tahun untuk membangunnya. Bahkan kita pun bisa melihat sendiri kualitas bangunan candi itu yang masih mampu berdiri kokoh, sekalipun beberpa kali guncangan alam sempat menggoyangnya juga sempat menenggelamkannya. Bangunan Candi Borobudur jelas lebih berkualitas dibandingkan bangunan Jembatan di Tenggarong, Kalimantan Timur yang runtuh beberapa waktu lalu.
Ketidak-asal-asalannya pembangunan candi oleh para leluhur bangsa ini mengundang manusia kekinian berdecak kagum. Hal itu masih jadi pembahasan yang ramai beberapa pihak terkait. Pasalnya, dari pembahasan itu dikeluarkan sebuah teori tentang rumus arsitek atau struktur ruang bangun yang mencengakan. Karena seperti yang dilangsir dari http://detik.com pada 2011 lalu, Candi Borobudur dibangun antara tahun 750 dan 842. Namun siapa sangka candi tersebut dibangun dengan menggunakan perhitungan matematika yang baru dikenal pada sekitar tahun 80-an. "Candi Borobudur bersifat fraktal, sebuah struktur geometri kontemporer yang baru dikenal pada dekade 80-an di ilmu matematika modern," kata peneliti Bandung Fe Institute, Rolan MD, dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (14/11/2011). Penelitian tersebut berlangsung sejak 2008 hingga 2011. Dari penelitian itu diketahui bahwa candi-candi di Pulau Jawa dibangun secara algoritimik atau seperti proses pembuatan program komputer, dengan mengikuti prosedur otomata selular totalistik. "Riset ini juga menunjukan arahan bahwa seluruh candi dibangun dengan rumus yang sama, namun memiliki kondisi inisial dan aturan pembangunan yang berbeda," imbuh Rolan. Suatu hal yang tidak terduga bahwa ilmu matematika modern telah diadaptasi dalam pembangunan candi yang memiliki tinggi asli 42 meter ini. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pada abad 8-9, peradaban Jawa telah membangun karya seni 3 dimensi yang sangat kompleks, seperti Candi Borobudur dan Prambanan. "Rumusnya sama tapi penyusunanasana berbeda" tandasnya (kompasiana.com)
Jelaslah kawan, bangsa Indonesia telah menempatkan dirinya sejajar bahkan lebih maju peradabannya dibandingkan beberapa bangsa lainnya sejak dulu. Keberlimpahan kekayaan dan potensi alam, Sumber Daya Manusia, keragaman budaya dan potensi sosial adalah modal utama yang sangat mahal yang tidak semua bangsa lain miliki. So...kita tinggal melanjutkan estafet keluhuran peradaban bangsa ini mulai saat ini dengan belajar...belajar,,,belajar banyak hal dan mengaplikasikannya agar ternikmati kebermanfaatannya untuk orang banyak.Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang banyak manfaatnya untuk sesama?Let's do the best!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar